Halaman

Selasa, 25 Desember 2012

Teori Belajar : PENGUATAN B.F Skinner

Teori Belajar : PENGUATAN B.F Skinner


A. SEJARAH MUNCULNYA TEORI KONDISIONING OPERAN B.F SKINNER
Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. Istilah-istilah seperti cues (pengisyratan), purposive behavior (tingkah laku purposive) dan drive stimuli (stimulus dorongan) dikemukakan untuk menunjukkan daya suatu stimulus untuk memunculkan atau memicu suatu respon tertentu. Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya.
Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan.
B. KAJIAN UMUM TEORI B.F SKINNER
Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan) yaitu sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:

1.     Belajar itu adalah tingkah laku.
2.     Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
3.     Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
4.     Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.



TEORI PENGUATAN OLEH SKINNER
A. Bentuk Teori Skinner
B.F. Skinner (104-1990) berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise).
Manajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior modification) antara lain dengan penguatan (reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan pada perilaku yang tidak tepat.
Operant Concitioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: anak kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen adalah penguat positifnya.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut: dalam laboratorium, Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, alat memberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik.
Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana-kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shaping.
Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati, Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulu-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.
Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain:
1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi    penguat.
2.  Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
3.  Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
4.  Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
5. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah,    untuk menghindari adanya hukuman.
6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan   digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
7. Dalam pembelajaran, digunakan shaping.

B. Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran
    1. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
 2. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
 3. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
 4. Materi pelajaran digunakan sistem modul.
 5. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
 6. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
 7. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
 8. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
 9. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
 10. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
 11. Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
 12. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
 13. Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
 14. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
 15. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya    masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat   sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
  
C. Kelebihan dan Kekurangan Teori Skinner
1. Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan. 
2. Kekurangan
Tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.
Selain itu kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi didalam situasi pendidikan seperti penggunaan rangking Juara di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi penguatan sesuai dengan kemampuan yang diperlihatkan sehingga dalam satu kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan prestasi yang ditunjukkan para siswa: misalnya penghargaan di bidang bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari atau olahraga.



TEORI BELAJAR SKINNER

Jenis Perilaku dan Belajar
Menurut Skinner, hampir semua perilaku manusia diidentifikasi jatuh ke dalam dua kategori yaitu perilaku responden dan perilaku operan. Perilaku responden adalah perilaku tanpa sengaja (refleks) dan hasil dari rangsangan lingkungan khusus. Agar perilaku responden terjadi, pertama perlu bahwa stimulus diterapkan pada organisme. Stimulus dari binatang kecil yang mengganggu terhadap mata Anda akan menyebabkan anda berkedip, suatu peristiwa memalukan dapat menyebabkan anda bermuka merah, dan flash cahaya terang akan mengakibatkan anda berkedip mata. Itu beberapa perilaku kita adalah perilaku responden.
Sebagian besar perilaku kita adalah perilaku operan, yang tidak otomatis, dapat diprediksi, atau terkait dalam setiap cara yang dikenal dengan mudah diidentifikasi oleh rangsangan . Skinner percaya bahwa perilaku tertentu hanya terjadi, dan bahkan jika disebabkan oleh tertentu (tapi sulit untuk mengidentifikasi) rangsangan, rangsangan ini adalah tidak penting untuk mempelajari perilaku.
Kata "operan" menjelaskan seluruh sikap perilaku yang beroperasi pada lingkungan untuk menghasilkan peristiwa atau tanggapan dalam lingkungan. Jika kejadian atau tanggapan yang memuaskan, kemungkinan bahwa perilaku operant akan diulang biasanya meningkat.
Manajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior modification) antara lain dengan penguatan (reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan pada perilaku yang tidak tepat.
Operant Concitioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: anak kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen adalah penguat positifnya.
Baik perilaku responden dan operan bisa diajarkan dan dipelajari. Mengajar dan belajar prilaku responden mensyaratkan penyajian stimulus yang akan menyebabkan perilaku yang diinginkan terjadi, sedangkan perilaku operan adalah belajar melalui penguatan yang tepat (baik penguatann positif atau penguatan negatif) yang diberikan segera atau terjadi secara spontan perilaku operan. Pemberian penguatan kepada seseorang dari perilaku yang diinginkan biasanya meningkatkan kemungkinan bahwa ia akan mengulangi perilaku tersebut. Jika penguatan berupa hukuman, diharapkan bahwa individu akan belajar untuk menahan diri dari hal yang tidak diinginkan.
Pengkondisian operan, sebagaimana ditentukan oleh Skinner, dapat digunakan untuk mempromosikan leaming oper-semut. Pengkondisian Operan untuk belajar operan dikendalikan dengan mengikuti suatu perilaku dengan suatu rangsangan. Rangsangan , yang disajikan setelah adanta tanggapan biasanya disebut penguatan. Hal ini dapat berupa penguatan positif atau negatif, karena baik positif maupun negatif dapat digunakan untuk meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku akan diulang.
Penguatan
Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan pengutan negative. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Skinner mendefinisikan penguatan positif sebagai stimulus yang ketika disajikan mengikuti perilaku oleh pelajar, cenderung meningkatkan kemungkinan bahwa prilaku tertentu akan terulang, yaitu perilaku yang menguatkan. Siswa yang menjawab dengan benar di kelas, pujian guru meningkat kemungkinan bahwa siswa menanggapi pertanyaan guru, sehingga reaksi yang menyenangkan guru berfungsi sebagai penguat positif bagi siswa. Pernyataan yang tidak menyenangkan guru menyusul kegagalan siswa dalam menanggapi pertanyaan juga guru bertindak sebagai penguat positif, karena diperkuat perilaku siswa yang tetap diam ketika ditanya oleh guru. perilaku itu, adalah dianggap sebagai penguat positif oleh Skinner.

 




Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).
Burrhus Frederic Skinner lahir 20 Maret 1904, di kota kecil Pennsylvania Susquehanna. Ayahnya adalah seorang pengacara, dan ibunya yang kuat dan cerdas ibu rumah tangga. Asuhan-Nya telah tua dan bekerja keras.
Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970)
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut :
Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yangdapat diatur nyalanya, dan lantai yanga dapat dialir listrik. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Percobaan B. F. Skinner
Untuk menguraikan teori pengkondisian, B. F. Skinner memperkenalkan konsep pengkondisian operan. Untuk memahami pengkondisian operan, perlu dibedakan apa yang disebut Skinner sebagai perilaku respon dan perilaku operan. Perilaku respon adalah respon langsung pasa stimulus, seperti pada respon yang tidak dikondisikan dalam pengkondisiana klasik. Sebaliknya, perilaku operan dikendalikan oleh akibatnya. Pada mulanya hal itu terjadi dengan sendirinya: yaitu munculnya lebih bersifat spontan daripada merupakan respon stimulus tertentu.
Adapun percobaan Skinner untuk mendemonstrasikan pengkodisian operan adalah sebagai berikut:
Seekor tikus yang lapar diletakan dalam sebuah kotak yang disebut “kotak Skinner”. Di dalam kotak Skinner tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah jeruji yang menonjol di mana terdapat piring makanan di bawahnya. Sebuah lampu kecil di atas jeruji dapat dinyalakan menurut kehendak perlaku eksperimen.
Tikus yang dibiarkan sendiri dalam kotak, berjalan kesana kemari menjelajahi keadaan sekitar. Kadang-kadang tikus melihat jeruji tersebut dan menekannya. Lalu penekanan tikus pertama terhadap jeruji merupakan peringkat dasar dasar penekanan jeruji. Setelah menentukan peringkat dasar, pelaku eksperimen menggerakkan bubuk makanan yang diletakkan di luar kotak Skinner. Setiap kali tikus menekan jeruji, butir-butir halus makanan terluncut jatuh ke piring makanan. Tikus memakannya dan segera menekan jeruji lagi. Makanan menguatkan (reinforce) penekann jeruji dan laju penekanan meningkat secara drastic. Bila tempat makanan tidak dihubungkan dengan jeruji sehingga penekanan jeruji tidak lagi mengeluarkn makanan, laju penekanan jeruji akan berkurang. Berarti respon operan mengalami pemadaman (extinction) tanpa adanya penguatan.
Pelaku eksperimen dapat menetapkan diskriminasi dengan menyediakan makanan jika jeruji ditekan dan lampu menyala, tetapi tidak ada makanan bila lampu mati. Penguatan selektif ini mengkondisikan tikus untuk menekan jeruji hanya pada saat lampu menyala. Dalam hal ini, lampu berfungsi sebagai stimulus diskriminatif (discriminative stimulus) yang mengendalikan respon.
Dengan demikian, pengkondisian operan meningkatkan kemungkinan adanya respon dengan menertakan penguat (reinforce) setelah kejadiannya dan bisa bersaku sebaliknya (extinction).

D. Pengaruh Teori Skinner dalam Kehidupan sehari-hari
Teori Skinner tentang pengkondisian ini sangat minati saat ini karena memang memiliki fungsi ayng sangat membantu manusia. Melalui teori ini oran-orang dapat melatih hewan peliharaan (kucing, anjing, burung dll.) maupun hewan-hewan yang berguna dalam membantu manusia (merpati, anjing polisi dll.).
Dalam pengkondisian operan menurut Skinner ini, para pelaku eksperimen dapat mendorong perilaku baru dengan mengambil manfaat dari perbedaan tindakan subyek. Untuk melatih seekor anjing,agar bisa menekan bel dengan moncongnya, seorang penyelidik dapat memberikan imbalan setiap kali anjing tersebut mendekati kawasan bel, serta member isyarat bagi anjing untuk menyentuh bel. Dan jika akhirnya bel tersentuh, kembali diberi imbalan (penguatan).
Dengan cara ini juga burung dara dapat dilatih dengan membentuk respon operan untuk menemukan lokasi orang-orang yang hilang di laut; ikan lumba-lumba dilatih untuk menarik peralatan di bawah air.
Teori Skinner ini juga sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, dimana rata-rata system pendidikan saat ini menerapkan system pengkondisian Skinner. Saat sensitifnya masalah hak asasi manusia (HAM), maka penerapan hukuman di dunia pendidikan mulai dikurangi dan beralih ke cara yang dperkenalkan Skinner yaitu bahwa hukuman tidak perlu, yang diperlukan adalah member hadiah bagi yang berprestasi untuk merangsang anak-anak yg tidak berprestasi untuk belajar lebih baik lagi.



Prinsip-prinsip utama pandangan Skinner:
  1. Descriptive behaviorism, pendekatan eksperimental yang sistematis pada perilaku yang spesifik untuk mendapatkan hubungan S-R. Pendekatannya induktif. Dalam hal ini pengaruh Watson jelas terlihat.
  2. Empty organism, menolak adanya proses internal pada individu.
  3. Menolak menggunakan metode statistical, mendasarkan pengetahuannya pada subyek tunggal atau subyek yang sedikit namun dengan manipulasi eksperimental yang terkontrol dan sistematis.
Sumbangan Skinner sebagai seorang psikolog
  1. Salah seorang psikolog yang pandangannya paling berpengaruh dan banyak dirujuk oleh para psikolog lainnya
  2. Mengembangkan sejumlah prinsip-prinsip psikologis yang cukup terbukti aplikatif terhadap masalah-masalah perilaku yang nyata karena didukung oleh hasil-hasil eksperimen yang jelas
  3. Memberikan ide kreatif dan baru bagi metode dalam belajar dan terapi yang konvensional
Konsep-konsep utama yang dikembangkan oleh B. F Skinner adalah sebagai berikut:
Proses operant conditioning:
  1. Perilaku namun dalam kadar peningkatan dan intensitas yang berbeda-beda.
  2. Discrimination : organisma dapat diajarkan untuk berespon hanya pada suatu stimulus dan tidak pada stimulus lainnya. Caranya adalah secara konsisten memberi reinforcement hanya pada respon bagi stimulus yang diinginkan dan tidak pada respon terhadap stimulus.
Memilah perilaku menjadi respondent behavior dan operant behavior. Respondent terjadi pada kondisioning klasik, dimana reinforcement mendahului UCR/CR. Dalam kondisi sehari-hari yang lebih sering terjadi adalah operant behavior dimana reinforcement terjadi setelah response.
  1. Positive dan negative reinforcers [kehadirannya PR menguatkan perilaku yang muncul, sedangkan justru ketidakhadiran NR yang akan menguatkan perilaku].
  2. Extinction: hilangnya perilaku akibat dari dihilangkannya reinforcers
  3. Schedules of reinforcement, berbagai variasi dalam penjadwalan pemberian reinforcement dapat meningkatkan lainnya.
  4. Secondary reinforcement, adalah stimulus yang sudah melalui proses pemasangan/kondisioning dengan reinforcer asli sehingga akhirnya bisa mendapatkan efek reinforcement sendiri. Dalam kenyataan riil kehidupan manusia, hampir semua yang kita anggap sebagai reinforcement adalah secondary reinforcer.
  5. Aversive conditioning, proses kondisioning dengan melibatkan suasana tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan punishment. Reaksi organisme adalah escape atau avoidance.




TEORI BELAJAR
KONDISIONING OPERAN B.F SKINNER
PENDAHULUAN
Banyak  teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke 19 sampai sekarang ini. Pada awal abad ke-19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behaviorisme) yang awal mulanya dikembangkan  oleh psikolog Rusia Ivan Pavlav (tahun 1900-an) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain seperti Edward Thorndike, B.F Skinner dan Gestalt.
Teori belajar behaviorisme ini berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau Penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah,tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Di awal abad 20 sampai sekarang ini teori belajar behaviorisme mulai ditinggalkan dan banyak ahli psikologi yang baru lebih mengembangkan teori belajar kognitif dengan asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi prilaku. Penekanan kognitif menjadi basis bagi pendekatan untuk pembelajaran. Walaupun teori belajar tigkah laku mulai ditinggalkan diabad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori belajar kognitif dan teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang cocok dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada satu pun teori belajar yang betul-betul cocok  untuk menciptakan sebuah pendekatan pembelajaran yang pas dan efektif.
Dalam makalah ini akan dibahas sebuah teori belajar dari aliran behaviorisme yaitu teori belajar kondisioning operan B.F Skinner yang terdiri dari beberapa hal yaitu:
  1. Sejarah munculnya teori kondisioning operan B.F Skinner.
  2. Kajian umum teori B.F Skinner.
  3. Aplikasi teori skinner terhadap pembelajaran.
  4. Analisis perilaku terapan dalam pendidikan
  5. Kelebihan dan kekurangan teori skinner





PEMBAHASAN
  1. A. SEJARAH MUNCULNYA TEORI KONDISIONING OPERAN B.F SKINNER
Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. pada waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat  pada pelaksanaan penelitian. Istilah-istilah seperti cues (pengisyratan), purposive behavior (tingkah laku purposive) dan drive stimuli (stimulus dorongan) dikemukakan untuk menunjukkan daya suatu stimulus untuk memunculkan atau memicu suatu respon tertentu.
Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson. Artinya, agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu, maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan.




B. KAJIAN UMUM TEORI B.F SKINNER
Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). Pengkondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
  1. Belajar itu adalah tingkah laku.
  2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
  3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
  4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Tabel Perbandingan Respons Elisit dan Tingkah-Laku Operan
Respons Elisit ( Refleks )
Respons Emisi atau Operan
Ada korelasi yang dapat diamati antara stimulus dan respons; Respons yang terpancing keluar terutama untuk menjaga kesejahteraan organisme.
Ada respons bertindak mengenai lingkungan yang menimbulkan konsekuensi yang berpengaruh pada organisasi, dan dengan demikian mengubah tingkah-laku yang akan datang; Tidak ada korelasi nya dengan stimulus sebelumnya.
Di kondisikan dengan substitusi stimulus; Kondisioning Tipe S
Di kondisikan melalui konsekuensi respons yang memperbesar peluang merespons; Kondisioning Tipe R.
  1. Tingkah-laku organisme secara individual merupakan sumber data yang cocok.
  2. Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan itu sama untuk semua jenis mahkluk hidup.
Berdasarkan asumsi dasar tersebut menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).

Penguatan dan Hukuman.
Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua bagian:
-      Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
-       Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Satu  cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Berikut ini disajikan contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman (J.W Santrock, 274).

Penguatan positif
Perilaku
Murid mengajukan pertanyaan yang bagus
Konsekuensi
Guru menguji murid
Prilaku kedepan
Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan
Penguatan negatif
Perilaku
Murid menyerahkan PR tepat waktu
Konsekuensi
Guru berhenti menegur murid
Prilaku kedepan
Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu
Hukuman
Perilaku
Murid menyela guru
Konsekuensi
Guru mengajar murid langsung
Prilaku kedepan
Murid berhenti menyela guru
Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Dalam kedua bentuk itu, konsekuensi meningkatkan prilaku. Dalam hukuman, perilakunya berkurang.
Kupasan yang dilakukan Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan pada dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam kelas. Belajar, yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons, diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf). Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang percobaan dalam “kontigensi terminal”. Maksudnya, binatang itu harus berusaha penuh resiko, berhasil atau gagal, dalam mencari jalan lepas dari kurungan atau makanan. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-respon-penguatan yang diatur secara seksama.
Dikelas, Skinner menggambarkan praktek “tugas dan ujian” sebagai suatu contoh menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. Hukuman harus dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami, penguat positif dan negative, dan penguat umum.
Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain:
-      Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
-      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
-      Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
-      Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
-      Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
-      Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
-      Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
  1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning  itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.



C. APLIKASI TEORI SKINNER TERHADAP PEMBELAJARAN.
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
-      Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
-      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
-      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
-      Materi pelajaran digunakan sistem modul.
-      Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
-      Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
-      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
-      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
-      Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
-      Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
-      Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
-      Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
-      Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.

Senin, 24 Desember 2012

Pemahan Struktur Bacaan IPA dan Strategi Memahami Materialnya: Langkah ke Arah "Learn How to Learn"

Pemahan Struktur Bacaan IPA dan Strategi Memahami Materialnya: Langkah ke Arah "Learn How to Learn" PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Taufik Rahman dan Tomo   
Salah satu alasan mengapa siswa kurang berhasil dalam belajar sains (IPA) adalah karena mereka mengalami kesulitan membaca buku teks. Siswa yang tidak trampil dalam membaca buku teks  hanya akan menghabiskan banyak waktu dalam proses belajar yang tidak produktif. Mereka memiliki peluang yang kecil untuk dapat menyelesaikan masalah  yang terdapat dalam teks bacaan. Ada 6 (enam) tipe struktur teks atau pola utama organisasi material teks IPA, yaitu ; sekuens, enumerasi, generalisasi, klasifikasi, perbandingan dan pengontrasan, dan penyelesaian masalah. Untuk dapat memahaminya dengan baik, setiap bentuk struktur teks atau pola organisasi material teks tersebut menuntut strategi membaca tertentu

A. PENDAHULUAN

       Tidak ada lahan kajian yang mengalami perubahan lebih dinamis dan lebih cepat daripada sains (IPA), apalagi dalam era globalisasi seperti saat ini. Perubahan ini tidak dapat dihindari, karena kemajuan di salah satu bidang, sains atau teknologi, akan berdampak pada kemajuan di bidang lainnya.
       Glynn & Muth (1994:1057-1058)  menyatakan bahwa agar siswa melek sains (IPA), mereka harus mempunyai kemampuan membaca dan menilai informasi tekstual yang disajikan kepada mereka dan kemampuan menulis untuk mengkomunikasikan pikiran mereka. Kedua aktivitas tersebut---membaca dan menulis--mempunyai pengaruh yang  kuat terhadap cara dan proses berpikir serta keberhasilan belajar siswa.
     Walaupun buku teks merupakan alat dasar (basic tool) bagi proses belajar dan informasi yang disajikannya merupakan hal yang penting bagi menunjang keberhasilan siswa, namun sering menjadi sumber kesulitan bagi banyak siswa (Twining, 1991:112).
      Kesulitan memahami  buku teks dan konsep-konsep yang essensial  dalam suatu  teks bacaan dapat disebabkan karena siswa belum mengetahui strategi dan memiliki keterampilan dasar memahami bacaan dan struktur teks bacaan (Spiegel & Barufaldi, 1994).

      Selama ini pengembangan kemampuan kedua aktivitas tersebut—membaca dan menulis agaknya dipandang “ sebelah mata” oleh banyak guru IPA dan/atau oleh pengambil kebijakan pendidikan. Pengembangan kemampuan memahami buku teks ini cenderung dianggap hanya merupakan tugas pokok guru mata pelajaran bahasa Indonesia, atau mungkin bahasa Inggris. Di lain pihak, ada anggapan bahwa pengembangan keterampilan membaca dan menulis bila diintegrasikan dalam pengajaran IPA akan dirasakan menyita banyak waktu, apalagi materi IPA sendiri dirasakan sudah padat. Akibatnya, di sekolah jarang, bahkan mungkin tidak pernah,  dijumpai
       Para guru IPA mengajarkan siswanya secara sengaja dan terencana tentang bagaimana strategi membaca (belajar) yang baik, memahami buku teks dan strukturnya, dan strategi memahami material dalam teks bacaan secara bermakna. Kondisi pembelajaran IPA semacam ini diduga terjadi di banyak sekolah di Indonesia yang perlu dicari alternatif pemecahannya.
      Kondisi ini akan semakin “parah” bila kita menyadari bahwa  aktivitas belajar siswa yang hingga saat ini sering dibicarakan adalah rendahnya minat  baca dan pemahaman membaca buku teks. Hasil studi International Educational Achievement (IEA) menunjukkan data yang miris. Di antara 39 negara yang peserta studi untuk kemampuan membaca, SD kita berada di urutan ke 38 (Depdiknas, 2001:1). Di sekolah, bahkan di perguruan tinggi, tingkat keausan hasil belajar  semakin tinggi (Tobias, dalam Halloun, 1996)”: siswa cepat lupa dan tidak memperoleh banyak informasi dari aktivitas membacanya. Selain itu, sekarang tampak gejala sebagian siswa yang lebih bersifat pragmatis. Mereka acapkali menghendaki sesuatu yang serba singkat dan mudah, ibarat memasak “instant noodles” (Leo Sutrisno, 2001).
        Pendapat Fraser (1993:14) yang menegaskan bahwa salah satu alasan mengapa siswa kurang berhasil dalam belajar sains (IPA) adalah karena mereka mengalami kesulitan membaca buku teks agaknya layak diantisipasi oleh banyak pihak yang terkait dalam dunia pendidikan. Bahkan, menurut Halliday (1992), siswa yang tidak trampil dalam membaca buku teks  hanya akan menghabiskan banyak waktu dalam proses belajar yang tidak produktif. Mereka memiliki peluang yang kecil untuk dapat menyelesaikan masalah  yang terdapat dalam teks bacaan.
        Robinson (1975:100) menegaskan bahwa bagaimanapun ahlinya seorang guru dalam mengajar, bagaimanapun canggihnya material buku teks IPA, dan berapapun banyaknya aktivitas inkuiri laboratorium yang dilakukan, namun membaca masih menjadi suatu yang rumit dan kompleks, terutama yang dirasakan oleh pembaca yang belum terampil. Karena tugas membaca terjalin atau terkait erat dengan lahan kajian (content area), maka peran guru IPA adalah membantu siswa dalam belajar bagaimana  memperoleh berbagai pengetahuan dari aktivitas membaca.    
         Dikaitkan dengan ikhtiar Pemerintah yang terus melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas guru dalam mengelola proses pembelajaran IPA, dan upaya untuk mempersiapkan siswa agar mampu belajar mandiri terutama dalam memahami  berbagai buku teks,  juga karena “learning to read and reading to learn should develop together throughout the school years” (Bond, et al., 1995:2), maka tulisan ini dirasakan relevan dan layak untuk diperkenalkan dan dikembangkan. Urgensi ikhtiar pengembangan kemampuan membaca dan memahami struktur teks dan strategi memahaminya ini juga dapat dikaitkan dengan pilar-pilar pembelajaran UNESCO, yaitu selain terjadi learning to know (pembelajaran untuk tahu), pada diri siswa juga harus terjadi learning to do (pembelajaran untuk berbuat) (Depdiknas, 2001: 8). Keduanya akan mengarah ke  pentingnya “learn how to learn” bagi siswa.

B.  BENTUK-BENTUK STRUKTUR TEKS IPA,STRATEGI MEMAHAMINYA
           Menurut Armbruster, et al. (1991), struktur teks bacaan adalah pengorganisasian bahan atau material bacaan – dapat berupa konsep-konsep atau informasi-- yang merefleksikan sistem pengaturan gagasan atau ide dalam  teks bacaan dan sifat  (the nature)  dari hubungan antara gagasan atau ide tersebut. Robinson (1975:100) menggunakan istilah lain untuk bentuk struktur teks, yaitu pola-pola organisasi material teks.  Spiegel & Barufaldi (1994) menjelaskan bahwa pengatur akhir  berbentuk grafik  (graphic postorganizer=GPO)  adalah suatu bentuk kerangka simbolik yang melibatkan penempatan gagasan atau konsep dalam  suatu susunan dua dimensi yang dibuat setelah membaca teks bacaan.  GPO dapat berupa : peta konsep, peta semantik, peta pengetahuan,

networking, diagram, peta hirarkis, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengenalan kembali organisasi atau struktur  teks merupakan alat bantu bagi pemahaman teks dan penyajiannya dalam bentuk grafik akan mempermudah dalam menghapal atau mengingat, pemahaman, dan pemecahan masalah (Armbruster, et.al, 1991; Tomskin, 1991; Mayer, 1992; Laidlaw, et.al, 1993, Spiegel & Barufaldi, 1994).
         Robinson (1975 :100) menyebutkan ada 6 (enam) pola utama dalam menulis dan mengorganisasi material dalam buku teks IPA, yaitu ; sekuens (sequence), enumerasi (enumeration), generalisasi (generalization), klasifikasi (classification), perbandingan dan pengontrasan (comparison or contrast), dan penyelesaian masalah (problem solution). Menurut Robinson, walaupun   pola-pola lain sering digunakan, namun 6 (enam) pola ini nampaknya yang paling umum atau banyak digunakan dalam lahan kajian IPA (lihat juga Cook &  Mayer, dalam Spiegel & Barufaldi, 1994:914).
          Robinson (1975:99-126) mendeskripsikan  jenis-jenis struktur atau pola-pola organisasi teks bacaan yang terdapat dalam buku  teks IPA  sebagai berikut :
Sekuens (sequence) : menjelaskan serangkaian langkah-langkah, peristiwa, atau tahapan-tahapan menurut urutan yang kronologis, berhubungan, dan berkelanjutan. Dalam buku teks IPA, pola sekuens dapat ditemukan dalam dua bentuk, yaitu : (a) penjelasan langkah-langkah dalam suatu proses; dan (b) penyajian atau presentasi langkah-langkah dalam suatu eksperimen. Sekuens dapat diberi nomor (numbered) secara tersurat dan tersirat.
Contoh 1 berikut ini adalah pola sekuens yang merupakan penjelasan langkah-langkah suatu proses atau eksperimen. Contoh 1:
Eksperimen ember es Faraday. Distribusi muatan listrik dalam suatu konduktor logam dapat didemontrasikan dengan sebuah eksperimen yang pertama kali dilakukan oleh Michael Faraday pada tahun 1810. Demontrasi ini, dikenal sebagai eksperimen ember es Faraday, menggunakan sebuah bola logam kecil, sebuah wadah atau tempat logam seperti ember tipis, dan sebuah elestroskop.
Jika bola diberi muatan dari sumber lain dan kemudian dimasukkan dalam ember itu, maka daun elektroskop itu akan mengembang. Ketika bola dipindahkan ke tempat yang lain dalam ember itu dan bahkan jika bola itu menyentuh permukaan dalam ember, maka tidak ada perubahan potensial yang terjadi seperti ditunjukkan oleh daun elestroskop. Setelah bola dipindahkan, permukaan dalam ember dan bola ditemukan tidak mempunyai muatan lagi.
Untuk menjelaskan apa yang terjadi, misalkan bola diberi muatan negatif dan dimasukkan dalam ember. Elektron-elektron bebas dalam ember logam ditolak dan berpindah ke permukaan sebelah luar ember dan ke elektroskop yang terhubung, dan meninggalkan muatan positif sebelah dalam ember itu. Ketika bola menyentuh ember itu, semua muatan negatif meninggalkan bola dan menetralkan muatan positif dengan jumlah yang sama.
Kenyataan bahwa daun elektroskop tetap tidak bergerak ketika bola dipindahkan menunjukkan (1) bahwa tidak ada distribusi ulang muatan negatif pada permukaan ember sebelah luar dan (2) bahwa jumlah muatan positif yang terinduksi sama dengan jumlah muatan negatif pada bola.   
Strategi
      Pola ini harus dibaca dengan lambat dan hati-hati. Wacana ilmiah tidak dimaksudkan untuk dibaca secara cepat, tetapi pola ini memerlukan proses membaca secara khusus. Para siswa yang menghilangkan atau salah menafsirkan satu langkah kecil saja, apakah  dalam membaca penjelasan suatu proses atau petunjuk dalam suatu percobaan/eksperimen, akan menyebabkan ia tidak dapat memahami langkah-langkah berikutnya atau akan tidak mampu melakukan eksperimen secara memuaskan.
Langkah 1: Pengenalan bagian pendahuluan (Recognition of Introduction).  Setiap pola sekuens diperkenalkan dengan suatu cara tertentu. Pola ini dapat diperkenalkan dalam sebuah paragraf atau dalam kalimat pertama. Dalam mempersiapkan membaca langkah-langkah suatu proses, pembaca harus meyakini apa yang dinyatakan atau disebutkan dalam bagian pendahuluan dan meyakini perbedaan antara bagian pendahuluan dengan langkah-langkah berikutnya.  Pembaca harus memahami bahwa bagian pendahuluan biasanya memberikan dua hal yang penting, yaitu : tujuan eksperimen, dan material/bahan-bahan yang digunakan dalam eksperimen itu. Tujuan eksperimen juga dapat ditemukan dalam kalimat pertanyaan.
Langkah 2 : Pengenalan langkah-langkah (Recognition of Steps). Untuk memahami dan meyakinkan urutan langkah-langkah dalam suatu eksperimen dapat dilakukan dengan membaca ulang. Langkah-langkah dalam suatu eksperimen biasanya agak jelas, khususnya ketika siswa melakukan langkah itu. Para siswa yang mengalami kesulitan memahami langkah-langkah ini dapat dibantu dengan menuliskan dan memberi nomor setiap langkah. Hal ini perlu dilakukan guru, karena mungkin dalam sebuah kalimat terdapat lebih dari satu langkah yang dilakukan dan penulis buku tidak selalu mengorganisasi gagasan mereka secara sempurna. Dalam mempertimbangkan langkah-langkah dalam sebuah proses, pembaca harus mengevaluasi setiap pernyataan/kalimat yang mereka baca dan menanyakan pada diri mereka sendiri apakah mereka  benar-benar membaca suatu langkah—suatu tindakan. Sebab, tidak semua kalimat memuat atau menyatakan suatu langkah/tindakan dalam suatu percobaan. Hasil  dan makna dari hasil-hasil percobaan yang dilakukan siswa ada baiknya didiskusikan guru di dalam kelas.
      Enumerasi (enumeration) : mendeskripsikan suatu daftar informasi  sederhana  tentang suatu topik. Berbeda dengan sekuens, pada enumerasi tidak ada keteraturan atau urutan yang berarti dalam daftar data atau fakta-fakta tersebut.  Enumerasi dapat diberi nomor secara explisit atau implisit.
       Dalam pola ini, topik utama yang akan dijelaskan biasanya diperkenalkan pada permulaan yang diikuti subtopik yang dapat berupa sejumlah penjelasan atau dekripsi, karakteristik, atau atribut yang menjelaskan topik itu. Tugas pembaca adalah menempatkan, memahami, dan mengingat subtopik bersama-sama dengan informasi yang berkaitan yang menjelaskan setiap subtopik itu. Pola ini sering disebut pola gagasan pokok utama dan penjelasan pendukung. Dalam pola enumerasi, kelompok fakta yang disebutkan satu per satu merupakan hal yang sangat penting, bukan pada luasnya pernyataan pada bagian pembukaan paragraf.            

    Strategi :
Robinson (1975:102) menyebutkan bahwa pembaca perlu melakukan tiga tahap dalam membaca pola enumerasi, yaitu pengenalan  topik (recognition of topic), pengenalan subtopik (recognition of subtopic), dan organisasi penjelasan yang berhubungan dengan suatu subtopik (organization of details related to a subtopic). Langkah satu dan dua dapat dilihat dan jelas atau mudah bagi banyak pembaca. Tahap tiga, merupakan suatu kelompok keterampilan yang paling mendasar yang berkaitan dengan banyak strategi dalam membaca wacana atau teks ilmiah, dan sering terbukti sulit bagi banyak pembaca.
Langkah 1 : pengenalan kembali topik (recognition of topic). Topik adalah sesuatu materi, subyek, atau hal yang ditulis. Topik bukanlah pikiran atau gagasan utama; gagasan utama biasanya mencakup topik dengan pesan yang paling penting yang ingin disampaikan penulis. Karena itu, sebuah topik biasanya menyebutkan sesuatu dan tidak termasuk deskripsi atau penjelasan tentang sesuatu itu, apa sesuatu itu, dan apa yang dilakukan untuk sesuatu itu. Pembaca harus waspada atau menaruh perhatian pada pernyataan pembuka yang memberi tanda (mensinyalkan) pola enumerasi dengan menyebutkan topik itu dan dengan menunjukkan jumlah topik yang akan dikembangkan. Dalam contoh 2 di atas angka khusus “tiga” disebutkan secara langsung yang akan didiskusikan dalam paragraf secara berurutan. Dalam kasus yang lain, begitu pembaca dapat menjadikan pernyatan pembuka (opening statement) ini, maka ia akan menjadi sadar (aware) terhadap topik dan pola tulisan yang digunakan.
Langkah 2 : Pengenalan subtopik (recognition of subtopic).Tugas pembaca adalah menemukan tempat setiap subtopik ketika ia sedang membaca. Dalam banyak kasus, menemukan subtopik ini adalah tugas yang cukup sederhana, karena penulis menggunakan kata penunjuk (signal word) seperti “pertama, kedua, dan ketiga, dst.” yang sering diikuti oleh kata kunci , misalnya ‘karakteriktik atau ciri” seperti dalam contoh 2. Biasanya, siswa (pembaca) harus memantau secara lebih hati-hati ketika penulis menggunakan tanda (signals) yang kurang spesifik, seperti “kemudian, berikutnya adalah, akhirnya”.
Langkah 3 : Pengorganisasian penjelasan yang berhubungan dengan suatu subtopik  (organization of details related to a subtopic). Setelah mencatat setiap subtopik; pembaca seharusnya kembali pada subtopik yang pertama untuk membaca semua informasi tentang subtopik itu sampai subtopik berikutnya. Dalam contoh 2, pembaca perlu berpindah ke paragraf-paragraf yang lain dan ke penjelasan-penjelasan yang menjelaskan setiap subtopik.
Hasil. Para siswa yang dapat  memahami pola enumerasi akan mampu memformulasi kerangka (outline) yang lebih lengkap seperti berikut ini.
DNA mempunyai karakteristik unik: mempunyai bentuk yang beragam
a.      keseragaman dalam ukuran, kekakuan, dan bentuk di sebelah luarnya yang luas
b.      keberagaman internal (sebelah dalam) yang tak terbatas.
c.       memerlukan usaha penghantaran informasi yang kompleks
                  membuat kopi atau tiruan dirinya sendiri
d.      hampir tak pernah berakhir
e.      dengan ketepata memindahkan informasi ke bagian-bagian sel
f.       tingkah laku sel merefleksikan petunjuk inimengontrol sel secara tak langsung—molekul yang lain memainkan peran sebagai kurir.
      
        Generalisasi (generalization) : menjelaskan topik atau konsep utama yang diikuti oleh informasi atau sub-sub topik yang mendukung, mengklarifikasi, menerangkan, atau memperluas topik utama. Generalisasi merupakan struktur teks yang paling umum dalam  Buku Teks IPA dan dapat memuat contoh-contoh, illustrasi, dan rincian-rincian tertentu. Pola generalisasi dapat ditemukan dalam paragraf penjelasan sebagai suatu hipotesis, prinsip, hukum, atau definisi tertentu dari suatu konsep IPA.
       Tidak seperti pola klasifikasi dan enumerasi dimana suatu subtopik menjadi hal penting yang utama, dalam generalisasi perhatian pembaca terutama terfokus pada satu generalisasi yang menggunakan subtopik hanya sebagai informasi pendukung. Dalam pola generalisasi, informasi pendukung sangat penting, yang tidak diorganisasi  dan dipakai nilai dirinya sendiri, tetapi untuk menjelaskan, mengklarifikasi, dan memberi penekanan pada generalisasi. Dalam teks IPA, informasi pendukung dapat terdiri atas rincian, penjelasan, atau ilustrasi. Jika generalisasi merupakan sebuah kesimpulan, maka informasi pendukungnya mungkin terdiri atas “bukti”; jika generalisasi berbentuk hipotesis, maka biasanya diikuti “bukti” sebagai informasi pendukungnya; jika generalisasi berbentuk prinsip atau pernyataan umum, biasanya sering disajikan berbagai ilustrasi atau perbandingan.
      Cuplikan teks pada contoh 3 berikut ini adalah unit wacana yang terdiri tiga paragraf yang membentuk satu generalisasi. Dalam paragraf 1 terkandung suatu prinsip, yang dinyatakan kembali dari kalimat pertama (dicetak miring) sampai  pada penjelasan kembali dalam kalimat terakhir paragraf pertama.  Paragraf 2 adalah suatu ilustrasi dalam bentuk suatu analogi ---suatu gaya yang agak umum dalam wacana ilmiah. Paragraf ilustratif sering merupakan pola-pola tulisan yang lebih luas. Paragraf 3 menyajikan suatu perbandingan-- bentuk lain ilustrasi.
      Dalam contoh 3 di bawah ini, pola generalisasi berbentuk suatu kesimpulan yang disebutkan pada awal paragraf. Paragraf berikutnya menyediakan “bukti” untuk pernyataan kesimpulan itu.
Contoh 3 :
Air adalah salah satu sumber daya yang paling bermanfaat bagi kehidupan manusia. Manusia menggunakan air sebagai alat transfortasi, untuk diminum dan keperluan rumah tangga sehari-hari, dan tempat membangun kapal. Air juga dapat berfungsi sebagai alat pertahanan alami dan  mengelilingi manusia dalam bentuk parit, sungai, dan laut; air dapat juga mendatangkan bencana, misalnya ketika terjadi banjir, sehingga manusia membangun tanggul. Manusia belajar mengendalikan, mengatur, dan mengeksploitasi air sebagai sumber kesuburan tanah dan merencanakan sistem irigasi (pengairan) dan drainase. Akhirnya, manusia menyadari bahwa arus air dan air terjun dapat digunakan sebagai sumber energi. Eksploitasi air sebagai sumber energi mungkin sudah berlangsung sekitar 100 tahun S.M. Sejak saat itu, banyak kemajuan di bidang teknik telah dibuat dan banyak sumber energi baru dieksploitasi.
Strategi
Langkah 1: Kata kunci dalam sebuah kalimat (key words in a sentence). Dalam wacana sains, siswa sering harus memilih lebih banyak kata kunci. Karena itu, mereka harus dilatih mengenali pesan-pesan penting yang dibawa oleh subyek, kata kerja, dan obyek, walaupun hal ini sama sekali tidak siap pakai. Latihan untuk menemukan kata kunci akan mengembangkan suatu “perasaan” bagi bahasa yang jauh lebih penting daripada keahlian ilmiah.
Dari  contoh 3 dapat dibuat kata kunci :
      Air sebagai sumber daya yang bermanfaat, Alat transfortasi, sumber   kehidupan  Pertahanan alami, sumber kesuburan, sumber energi
Langkah 2: Kalimat kunci dalam sebuah paragraf (key sentence in a paragraph). Dalam langkah ini, para siswa perlu menaruh perhatian terhadap lebih sedikit kata kunci ketika kalimat-kalimat disatukan dalam sebuah paragraf. Mereka dapat belajar mengenali kata kunci ini melalui pengalaman menggarisbawahi kata-kata kunci dalam kalimat paragraf pendek.  Para siswa harus berlatih mendaftarkan kata kunci (kelompok kata kunci), dengan cara mengubah kalimat atau kata-kata untuk mengorganisasi kata kunci itu pada tingkat paragraf. Kalimat kunci dapat diletakkan pada sembarang tempat dalam sebuah paragraf, baik di awal, di tengah, atau diakhir paragraf. Dalam contoh 3, generalisasi terletak dalam kalimat kunci pada permulaan paragraf.
Langkah 3 : Pikiran utama dalam sebuah paragraf (main thought in a paragraph). Setelah siswa berhasil bekerja dengan paragraf yang memuat banyak bentuk kalimat kunci yang letaknya bervariasi, mereka seharusnya siap melakukan tahap 3 ini.  Langkah ini adalah bagian dari pendekatan induktif. Material IPA sering menyebutkan kalimat-kalimat kunci secara langsung ketika pola generalisasi digunakan. Tetapi, ada kalanya generalisasi harus disimpulkan (hal ini lebih umum muncul dalam konten area selain sains).
             Klasifikasi (classification) : menjelaskan suatu topik utama  yang dibagi menjadi dua atau lebih kelas atau kategori yang diikuti oleh sub topik yang tersusun di bawah setiap kategori. Pola klasifikasi sering digunakan dalam Biologi, tetapi dapat pula ditemukan dalam berbagai cabang IPA lainnya. Paragraf-paragrafnya, biasanya, berbentuk penjelasan (explanatory), walaupun paragraf tunggal dengan fungsi-fungsi lainnya dapat muncul sebagai bagian dari pola klasifikasi secara keseluruhan.
          Perbandingan dan pengontrasan adalah dua pola yang berbeda, tetapi keduanya berhubungan erat, sehingga kadang-kadang siswa mengalami kesulitan memahami perbedaan itu. Beberapa paragraf dalam IPA menggunakan pola perbandingan atau pengontrasan untuk menjelaskan ide-ide atau mengilustrasikan sebuah ide yang telah diperkenalkan.
      Dalam pola perbandingan, hubungan-hubungan dibuat antara hal-hal atau karakteristik yang sama dan yang tidak sama. Dalam pola pengontrasan, hanya hal atau karakteristik yang menyatakan perbedaan yang disajikan.

C.  PENUTUP
         Membaca wacana ilmiah merupakan hal yang menuntut suatu proses membaca yang hati-hati, melibatkan kesadaran, dan menggunakan strategi tertentu yang sistematis. Kepadatan wacana ilmiah nampaknya tidak hanya disebabkan oleh ciri pokok (the nature) wacana itu, tetapi juga karena ada begitu banyak hal atau ide yang akan disampaikan, dan tidak pernah ada ruang yang cukup untuk menampung apa-apa yang akan diucapkan atau dikomunikasikan itu. Tidak diragukan lagi,  kita masih menemukan pengajaran yang kurang menekankan membaca sebagai alat belajar. Agaknya tidak beralasan untuk menganggap  bahwa para siswa tidak perlu untuk melakukan dan dibimbing dalam melakukan tugas-tugas membaca dalam IPA.
   Pemahaman organisasi atau struktur material teks bacaan diyakini akan membantu pembaca/siswa dalam mengurangi kesulitan membaca, meningkatkan pemahaman, dan dapat menambah rasa percaya diri terhadap pemahaman apa-apa yang telah dibaca. Struktur dan keteraturan teks nampaknya merupakan salah satu pendekatan yang dapat menyebabkan suatu disiplin (ilmu) dan informasi lebih masuk akal dan lebih mudah dipahami.
        Rendahnya hasil belajar IPA di sekolah—seperti didengar sampai saat ini- perlu dianalisis secara multidimensional, misalnya dari “kacamata’ kemampuan berbahasa siswa. Hal ini menjadi penting, bila kita menyadari bahwa sesungguhnya ada banyak siswa tidak dapat memahami konsep-konsep IPA dengan baik, bukan karena rumit dan kompleksnya konsep yang dipelajari, namun lebih pada ketidakmampuan siswa memahami bahasa dan istilah ilmiah (scientific terminology) yang termuat dalam konsep itu, dan ketidakpahaman mereka membaca buku teks.
        Pada masa globalisasi informasi dan teknologi ini, mempersiapkan siswa sehingga ia mampu melek ilmiah (scientific literacy) harus melibatkan juga pentingnya guru mengajarkan dan memodelkan secara eksplisit tentang “belajar bagaimana belajar (learn how to learn)”, disamping penekanan pada penguasaan fakta, konsep, prinsip-prinsip, dan keterampilan proses sains, dan keterampilan berpikir.

DAFTAR  BACAAN
Armbruster, B.B., Anderson, T.H., & Mayer, J.L. (1991). Teaching Text   Structure to Improve Reading and  Writing.  Science Education, 26, 130-137.
Bond, et. al., (1994). Reading Difficulties. Their Diagnosis and Correction. Allyn and Bacon, Inc,: Boston. USA
Carin, A.A. (1997). Teaching Modern Science. (7th edition). Merril Printice Hall: New Jersey
Cook, L.K. & Mayer, R.E. (1988). Teahing Readers about the Structure of Scientific Text. Journal of Educational Psychology, 80, 448-456. 
Depdiknas. (2001). Peranan Dewan Sekolah di Era Otonomi Daerah. Dengan Buku Jelajahi Dunia.Buletin Pusat Perbukuan. Vol.5. Jakarta: Pusat Perbukuan Dekdiknas
Fellows, N.J. (1992). A Window Into Thinking : Using Students’ Writing to Understand Knowledge Structuring and Conceptual Change. Journal of Research In Science Teaching, 8, 124-130.
Fellows, N.J.(1994). A Window Into Thinking : Using Students’ Writing to Understand Conceptual Change in Science Learning. Journal of Research In Science Teaching, 31,  985-1001.
Fraser, B.J. (1993). Research Implications for Science and Mathematics Teachers. Volume 1. Perth : Curtin University of Technology
Gaskins, I.W. & Guthtrie, J.T. (1994). Integrating Instruction of Science, Reading, and Writing : Goals, Teacher Development , and Assesment. Journal of  Research In Science Teahing
Glynn, S.M. & Muth, K.D. (1994). Reading and Writing to Learn Science: Achieving Scientific Literacy. Journal of Research In Science Teahing, 31, 1057-1073. 
Gottfried, S.S & Kyle,W.C. (1992). Textbook Use and The Biology Education Desired State. Journal of Research In Science Teaching, 29, 35-49.
Griffin, et al..(1995). Effects of Graphic Organizer Instruction on Fifth-Grade Students. The Journal of Educational Research
Halloun, I. (1996). Schematic Modeling for Meaningful Learning Physics. Journal of Research In Science Teaching. 33,9, 1019-1019.
Holliday, W.G. (1994). The Reading – Science Learning- Writing Connection: Breakthroughs, Barriers, and  Promise. Journal of Research In Science Teaching, 31, 877-893.
Twining, J.E. (1991). Strategies for Active Learning. Allyn and Bacon : Boston , USA